Friday, May 27, 2011

...............

Posted by radithafirza at 11:55 PM 0 comments
Oh God.
This is literally the first time I feel unhappy.
Not just not okay like usual, this is more.


I'm not happy this time.


God, please help me through this :'(

Monday, May 2, 2011

Sagittarius

Posted by radithafirza at 1:19 AM 0 comments

Aku sebenernya nggak begitu percaya sama astrologi. Percaya kalo ramalannya baik baik doing muehehehe :B

Tapi aku suka personality traits forecast berdasarkan astrologi. I’m Sagittarius. I like how they, astrologers, describe the personality traits of Sagittarius.

Sagittarius has a positive outlook in life, open-minded, they over come disappointments easily.

They are intellectual and philosophical and also good humored.

Sagittarius is full of energy, versatile, and eager for adventure. You will often find them travelling and exploring far away places. However, they are also restless, seldom setting in one place for very long.

Sagittarius is a friendly, likeable sign and has no shortage of friends. They show kindness and are helpful towards others. They are trustworthy, reliable, and honest. They have strong morals and have a tendency to being outspoken and quick to anger though are also forgiving. They can be faithful to their partner but there is the risk of the Sagittarius of being restless and wandering. They are however adaptable, and if they try, are able to balance their independence with loyalty.

Career wise they love teaching, and are interested in law and politics; they will also like any job, which is involved traveling. Sagittarius can be impatient and have a tendency to rush through new projects too quickly, making them prone to carelessness. They are broad-minded and inquisitive, loving anything new and interesting.

Nah, that’s what astrologers say about my sign, Sagittarius. Thought it’s prrrrrrrrrrrretty keewwwl!

Honestly, that’s what I want myself to be. Some people said I’m so “Sagittarius”, and I’m proud of it. :)

Ronggowarsito

Posted by radithafirza at 1:17 AM 0 comments

”Amenangi jaman edan, ewuh oyo ing pambudi.

Melu edan ora tahan, yen ora melu nglakoni ora bakal keduman.

Wekasane bisa kaluwen.

Nanging ndilalah kersaning Allah,

Begja-begjane kang lali,

Isih luwih begja kang eling lan waspada.”

Mengalami jaman gila, serba sulit dalam pemikiran.

Ikut gila tidak tahan, tetapi kalau tidak ikut bakal tidak kebagian, akhirnya bisa kelaparan.

Tetapi kehendak Allah,

Sebahagia-bahagianya orang yang lupa,

Masih lebih bahagia orang yang sadar dan waspada.






Bait ke-7 Serat Kalatidha

Ronggowarsito.

random

Posted by radithafirza at 1:14 AM 0 comments

Pernah gak sih kamu makan eskrim, kamu makannya sedikit sedikit soalnya gak pengen cepet abis,

Tapi tiba tiba ada orang yang nabrak kamu sampe eskrimnya jatoh?

Naaaaaaaaaaaaahh.. rasanya begitu bro.

Kamu, melakukan sesuatu dengan hati-hati, dengan harapan dapet hasil yang terbaik dan memuaskan, tapi pada akhirnya seseorang merenggutnya di depan matamu, hanya karena “ketidaksengajaan”.

Dia bahkan nggak makan eskrimnya, halooooooo. Trus buat apa coba? Sia-sia banget kan?







Kenyataan itu memang kadang kejam ya.. *liatin eskrim jatuh*

mimpi

Posted by radithafirza at 1:10 AM 0 comments

Rasanya kayak..

Kamu punya banyak impian. Kamu sadar kalo beberapa dari impian kamu itu bakalan sulit banget terwujud. Butuh banyak pengorbanan sampe mimpi itu terwujud. Ada yang bahkan hamper mustahil terwujud.

Tapi suatu hari.. semua mimpi kamu itu jadi kenyataan. Kamu seneeeeng banget, kamu bener-bener bersyukur semua itu terwujud.

Kamu sudah terbiasa hidup dengan mimpi-mimpi yang terwujud itu, sampai suatu saat..

BANG!

Seseorang membangunkanmu. Kamu terbangun, sadar kalo hidup yang ada di mimpimu itu.. ya cuma mimpi.

Itu menyakitkan sekali.

Mimpi yang indah itu menyakitkan, karena itu nggak nyata.

Cuma mimpi.








…………………. Lalu kamu terbangun dan menyadari kenyataannya.

wonderwall

Posted by radithafirza at 12:56 AM 0 comments
"... And all the roads we have to walk are winding,
And all the lights that lead us there are blinding
There are many things that I would like to say to you,
But I don’t know how.."


Hey stalker, I know it can be a rough way to get with you,
I may have to sacrifice some things,
May shed some tears,
May get some bad days,
But I’ll do almost anything.
And I’ll risk it all.



"... Because maybe you’re gonna be the one that saves me
And after all, you’re my wonderwall.."



Hey stalker!








………………………….…. I woof you.

Flashback

Posted by radithafirza at 12:44 AM 0 comments

I don’t know why on earth I’m writing this to you, since there seems to be no chance for you to read this. But well, I’m still writing this anyway.

Hey, it’s been years since I first knew you.

You’re a friend of friend, I just “added” you in to my friends list in spontaneity. And you greeted me.

It was like long time ago. You were stranger.

Then few months ago, you came in to my life, through social-networks, like before. I greeted you.

Aku inget jawabanmu yang super nyebelin waktu itu. “Oh, ini Firenze Firenze nggak jelas itu ya?” Hey wait! Siapa yang kamu bilang nggak jelas? :p

Selewat beberapa waktu, ya cuma gitu doang sih. You were still stranger, I didn’t give a shit to know you better.




………………………….. Until that day you asked for my Y!m id.

Hahaha, simple eh? Bahkan sebenernya nggak bermutu -___-

Kamu sering ngechat aku tiba-tiba, dengan status invisible to everyone (kamu emang raja invis :p). Kadang aku bisa nebak kamu sebenernya online, tapi invis. Buat aku, kamu itu predictable :)

Kamu lucu :) selalu adaaaaa aja “quote” aneh aneh hasil pemikiranmu yang ajaib dan nggak biasa. Tapi kadang kamu juga suka galauuuuuuuu, trus jadi jutek sendiri gitu deh :p

Dulu aku selalu tidur di bawah jam 9 malem. Kamu pernah bilang, “Manusia apaaaa kamu tidur jam segini? “ “Jam segini kok udah mau tidur to? Payah huuuuu..”. Tapi, sejak kamu masuk contact list Y!mku, aku jadi tahan melek sampe malem. Kamu nggak pernah bikin aku bosen :) terima kasih yaaa. Tapi sisi negatifnya, aku jadi susah tidur sebelum jam 10, dan itu bikin bangun kesiangaaaaaaaaaaaaaan -_________-





………………………………. Lalu kamu minta nomerku. Inget?

Kamu kayak mas mas gondes! :p

Aku ngakak sengakak ngakaknya waktu kamu minta nomer hpku. Aku jarang ngasih nomer hp ke orang yang tak kenal di dunia maya, apalagi cowok, nggak pernah. Tapi aku tau kamu “nyata”, beneran ada, dan aku pikir kamu bukan cowok iseng hehe ;)

“Kamu punya palu?”

“Punya, kenapa?”

“ Yaahh.. :| err.. kalo nomer hp punya jg nggak?”

“Oooohh.. kamu minta nomerku?”

“Iyaa :p”


And that was the official beginning :)



Aku inget, sms pertamamu itu ucapan lebaran, dan itu masih aku simpen sampe sekarang.

Aku sukaaaaaa sekali good nightmu :) sampe kadang aku suka maksa maksa kamu buat sms gitu hihi :p

Hey, aku kangen goodnightmu itu :) semuanya masih aku simpen.

Kalo boleh jujur, dulu semua smsmu mau nggak aku hapus. Sampe akhirnya aku mutusin buat nyortir semuanya, nyimpen yang unyu unyu, dan ngehapus sisanya. 200s messages deleted. Dan masih ada 100an lagi.

Aku inget waktu kita pertama kali ketemu!

Aku tau kamu mau ke amplas, dan aku kebetulan diajak mama ke sana. Mama sama temen temennya. Aku jalan jalan sendiri. Smsan sama kamu. Kamu bilang kamu lagi di taman sari. Aku lewat sana, tapi aku nggak ngenalin kamu yang mana. Ya uadah aku turun. Kamu bilang kamu hadep oishii bento. Pas aku lewat sana lagi, aku liat cowok yang hadep oishii bento, sendirian, dan bawa laptop, cuma ada satu.

Gotcha! It was you :)



Setelah itu, kita sering ketemu. Setiap waktu yang aku habiskan sama kamu masih ada di kepala. Cara kamu bikin aku ketawa, cara kamu ketawa, cara kita ketawa.

Sampe akhirnya kamu ilang dan nggak tau kemana.

Aku sedih loh. Aku galau berminggu minggu, serius -_____- kamu bahkan nggak ngucapin selamat ulang tahun buat aku.

It sucked, you know. How much time will it take to say a single Happy Birthday? Less than a minute!

Bu it’s okay. Later then you finally said it :)




……………………………. It was your birthday! :)

I sent you a Happy Birthday, and you replied it! I was so shocked since I didn’t get your reply for more than a couple of months. This is sad, honestly ;____;

But.. you said you were mad at me. I asked why, and you said you were afraid of falling for me, an afraid of me falling for you too. But you didn’t say anything further than that. I was like.. “Okay. No pressure.” but deep inside I was so CURIOUS. And I still am.

But later then you asked me out. I was like, “Am I dreaming?’ because just few days backwards you said you didn’t want to get involved in to crush with me. It was weird.

Few weeks forward I pressured you to say what was on your mind. You said you just.. wanted to concentrate. But the thing was, all you did later on didn’t show that you were concentrating on your study. Did you lie? No?




…………………………. After considering the risks, I decided to confess to you. About what I’m feeling for you.

You said, “Thanks :)” but you didn’t know what else to say. Kamu baik sekali nanggepinnya. Kamu setuju buat nggak berubah, kayak nggak ada apa apa di antara kita. Like you’re just another friend of mine.

Lately, seems like I’m breaking m own promise. Am I not?

Sorry, I just.. flashback.

Mungkin aku belum bisa buat move on.

Mungkin aku masih membodohi diri, mengira masih ada yang tersisa buat diselamatkan.

Mungkin aku bodoh.

Mungkin aku salah.

Tapi..

Flashback kayak gini bisa bikin aku senyum senyum sendiri, bahkan ketawa kayak orang gila. No point, huh? Sorry.

I miss going out and spending time with you!

P.S.: I wrote this in red because I think red will match you best. Your school, and your favorite football team :)

P.P.S.: Kamu mau brownies lagi nggak? :p




“Cause you know I’d walk a thousand miles,

If I could just see you..

Tonight.”

Vanessa Carlton – A Thousand Miles.

Morning Light

Posted by radithafirza at 12:40 AM 0 comments

Adegan ini adalah cuplikan dari novel yang pernah aku baca, dan nggak tau kenapa, aku suka banget adegan ini. My tears dropped down, I just couldn’t help it. Isn’t it great to have someone caring about you like this?

Devon baru kembali ke rumahnya saat petang dan saat dia pulang, Sophie sudah berdiri menunggu di depan rumahnya.

“Kamu menungguku dari tadi?” tanya Devon.

Sophie mengangguk. “Karena aku tidak tahu kapan kamu pulang.”

“Kenapa?”

“Bukankah sudah kukatakan karena aku tidak tahu kapan kamu pulang?” ulang Sophie dengan nada meninggi.

“Maksudku, kenapa kamu sampai menungguku seperti ini?”

“Jangan pernah! Dengan santainya bertanya seperti itu pada orang yang mengkhawatirkanmu setengah mati!” geram Sophie, matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu dari mana saja?!”

“A.. aku dari Simpang Lima, jalan-jalan sebentar menenangkan pikiran,”jawab Devon yang masih kaget karena melihat Sophie yang emosi.


Airmata Sophie menetes. Untuk pertama kalinya dia menangis di hadapan orang lain. Dia mencengkeram keras-keras kaus sepakbola Devon, lalu menunduk.

“Aku khawatir setengah mati,” katanya dengan suara bergetar. “Aku kira.. aku kira.. kamu akan melakukan hal-hal yang berbahaya..”

Jantung Devon serasa tiba-tiba berhenti berdetak. Sophie yang selama ini tidak pernah terlihat menangis bahkan saat novelnya ditolak dan diminta untuk berhenti menulis, sekarang menangis untuknya. Dadanya tiba-tiba terasa sakit. Dia tidak menyangka hanya melihat seseorang menangis bisa membawa rasa sakit hingga ke ulu hati sebesar itu. Dia memeluk gadis itu. Sangat erat dari pelukan manapun yang pernah dilakukannya sejak mereka kecil.

“Kamu mengkhawatirkanku sampai seperti ini?” tanya Devon pelan.

“Tentu saja, bodoh!” pekik Sophie sambil terisak.

Devon menghela napas. “Maaf..”


Sophie menangis cukup lama dan ketika sudah agak tenang, Devon melonggarkan pelukannya, lalu menjitak kepala Sophie pelan.


“Aduh, apa-apaan kamu ini?” protes Sophie.

Sophie merengut.

“Kamu ini,” desah Devon. “Kenapa tidak mempercayai kata-kataku? Bukankah sudah kubilang aku tidak apa-apa?”

Sophie tidak menjawab.

“Kembalilah ke rumahmu,” pinta Devon. “Aku juga, masih ada yang harus kuselesaikan.”

“Eh?” Sophie mencengkeram kaus Devon lagi.

“Tidak apa-apa,” kata Devon sambil tersenyum. “Aku akan tetap menyukai sepakbola. Seperti katamu, aku tidak akan membiarkan siapapun atau apapun merenggut perasaan ini dariku. Saat ini, aku hanya butuh dukunganmu.

Devon menatap Sophie. “Lebih dari apapun dan siapapun.”

Sophie tertegun, dia melepaskan tangannya.

Devon menatap mata Sophie dalam-dalam. “Percayalah padaku.”

Sophie terdiam sesaat lalu mengangguk. “Umh.”

Devon tersenyum.



Ada lagi broooo.. yang ini juga gak tau kenapa bikin mbrebes mili. Iya iya aku cengeng -.- blah. Aku iri sekali yang ini huhuhuh. It would be absolutely great to have someone, who can “read your mind”, know what your feeling without asking.

“ Kenapa lama sekali?” tanya Devon begitu Sophie keluar pagar.

“Sorry.. sorry.. tadi aku sedang menelepon editorku,” kata Sophie dengan wajah menyesal.

“Tentang novelmu?”

Sophie mengangguk. “Karena sampai sekarang aku belum juga dapat jawabannya apakah akan diterima atau nggak. Mbak Dewi bilang, jawabannya akan dia kasih tau besok, sorry sekali lagi.”

“Aku sih nggak apa-apa, tapi Julian dan Agnes sekarang pasti sudah jadi ijo gara-gara lumutan kelamaan nunggu,” kata Devon sambil meringis. Dia meregangkan ototnya sebelum membuka pintu mobil.

“Aku tidak sabar ingin makan sandwichnya!!” serunya dengan nada antusias dan mata berbinar-binar. “Lalu black forest,..”

Sophie tiba-tiba terdiam.

“Hei, kamu kenapa?” tanya Devon bingung. “Sakit gigi? Atau lapar?”

Sophie masih membisu dan hanya berdiri terpaku di depan Devon.

“Ah aku tahu! Kamu akhirnya memutuskan untuk diet ya?” kata Devon sambil tertawa.

Tepat pada saat Devon sedang tertawa, tangan Sophie memegang kedua pipi Devon lalu menariknya keras-keras.

“ADUDUDUDUDUDUH!!!!!!” erang Devon. “Apa-apaan sih?”

Sophie menatap mata Devon. “Apa kamu tidak capek berpura-pura seperti itu?”

“Hah?”


Sophie melepaskan tangannya dari pipi Devon, lalu masuk ke mobil tanpa mengatakan apa-apa. Devon masih melongo, tapi tidak butuh waktu lama hingga dia tahu apa yang sedang terjadi. Dia pun tersenyum. Di dunia ini mungkin hanya Sophie yang bisa membaca perasaannya.


“Thanks,” katanya pada Sophie begitu mobil dijalankan.






Taken from Morning Light by Windhy Puspitadewi.

This novel is worth enough to read. Sayangnya satu, I know someone named Devon, and I can’t help imagining this Devon as him. Kinda ruining the character’s impression for me ._____. But it’s ok, enjoy this novel.

 

Sunshine in the Rain Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos